-->

Thursday, April 30, 2015

Perjuangan Sunan Gunung Jati Melawan Para Penjajah Portugis

Perjuangan Sunan Gunung Jati

Sunan gunung jati fotoSering kali terjadi kerancuan antara nama fatahillah dengan syarif hidayatullah; yang bergelar sunan gunung jati. Orang menganggap fatahillah  dan Syatif Hidayatullah adalah satu orang, namun sebenarnya adalah dua orang. Syarif hidayatullah adalah cucu raja pajajaran dan seorang penyebar agama islam di jawa barat yang kemudian disebut sunan gunung jati.
Sementara itu fatahillah adalah seorang pemuda pasai yang dikirim oleh Sultan Trenggana, raja demak, untuk membantu sunan gunung jati berperang melawan penjajah portugis. Bukti bahwa fatahillah bukan sunan gunung jati adalah makam yang berada di dekat sultan gunung jati bertulis tubagus pasai fathullah, fatahillah, atau faletehan, menurut lidah orang portugis.  
Syarif hidayatullah dan ibunya, syarifah Muda’im, datang ke negeri caruban Larang, jawa barat, pada tahun 1475 m. Setelah mereka singgah dulu di gujarat dan pasai untuk menambah pengalaman. Ketika mereka sampai di negeri caruban larang, keduanya disambut gembira oleh pangeran cakrabuana dan keluarganya. Ketika ibu dan anak itu tiba di caruban larang, syekh kahfi sudah wafat dan dimakamkan di pasambangan. Dengan alasan agar selalu dekat dengan makam gurunya, syarif muda’im minta diizinkan tinggal di pasambangan atau guungjati, cirebon.

Syarifah muda’im dan putranya, syarif hidayatullah, menrsuhkan usaha syekh kahfi dengan membuka pesantren gunung jati. Maka, nama syarif hidayatullah lebih dikenal dengan sebutan sunan gunung jati. Tibalah saat yang ditentukan, yaitu pangeran cakrabuana menikahkan anaknya, Nyi Pakungwati dengan Syarif Hidayatullah. Pada tahun 1479 m. Pangeran cakrabuana karena usianya sudah lanjut, menyerahkan kekuasaan negeri caruban larang kepada syarif hidayatullah dengan gelar susuhunan yang berarti orang yang dijunjung tinggi.

Pada tahu pertama pemerintahannya, syarif hidayatullah berkunjung ke pajajaran untuk mengunjungi kakeknya, yaitu prabu siliwangi. Sang prabu diajak masuk islam, tetapi tidak mau. Meskipun prabu siliwangi tidak mau masuk islam, ia tidak menghalangi cucunya menyiarkan agama islam di wilayah pajajaran. Kemudian syarif hidayatullah melanjutan perjalanan ke serang, banten.

Penduduk serang sudah ada yang masuk islam karena banyak saudagar arab dan gujarat yang sering singgah ke tempat itu. Meskipun demikian, kedataga syarif hidayatullah disambil baik oleh adipati Banten. Bahkan syarif hidayatullah dijodohkan degan putri adipati banten yang bernama nyi kawungten. Dari perkawinan ini, ia dikaruniai dua orang anak, yaitu Nyi rabu winaon dan pangeran sebakingking.

Dalam menyebarkan gama islam di tanah jawa, syarif hidayatullah atau sunan gunung jati tidak bekerja sendirian. Ia sering bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di masjid demak. Bahkan, ia juga ikut membantu pendirian masjid demak. Dari pergaulannya dengan sultan demak dan para walinya, syarif hidayatullah akhirnya  memimpin caruban larang dan mendirikan kesultanan pakungwati. Dan, ia memproklamirkan diri sebagai raja dengan gelar sultan.

Dengan berdirinya kesultanan tersebut, cirebon tidak lagi mengirim upeti kepada pajajaran yang biasanya disalurkan lewat kadipaten galuh. Namun, tindakan ini dianggap sebagai pembangkangan oleh raja pajajaran. Ia tidak peduli terhadap orang yang berdiri di balik kesultanan cirebon. Maka, ia mengirimkan pasukan prajurit pilihan yang dipimpin oleh Ki jagabaya. Tugas mereka adalah menangkap syarif hidayatullah yang dianggap telah lancang mengangkat diri sebagai raja tandingan pajajaran.

Tapi, usaha ini tidak berhasil, ki jagabaya dan anak buahnya malah tidak kembali ke pajajaran. Mereka masuk islam dan menjadi pengikut syarif hidayatullah. Maka pengaruh kesultanan pakungwati semakin bertambah besar karena prajurit dan perwirapilihan pajajaran bergabung ke cirebon. Berbagai daerah lain, seperti surantaka, japura, wana giri dan telaga, juga menyatakan diri menjadi wilayah kesultanan pakungwati di cirebon.

Setelah pelabuhan muara jati diperluas, maka semakin bertambah besar pengaruh kesultanan pakungwati. Banyak pedagang besar negeri asing yang datang menjalin pershabatan, di antaranya negeri tiongkok. Bahkan salah seorang keluarga istana cirebon menikah dengan pembesar negeri cina yang berkunjung ke cirebon, yaitu Ma Huan. Maka, jalinan antara cirebon dan negri cina semakin erat.

Sunan gunung jati juga pernah diundang ke negeri cina dan menikah dengan putri kaisar cina yang bernama putri Ong tien. Pada saat itu, kaisar cina yang berasal dari dinasti ming jua bragama islam. Dengan perkawinan itu sang kaisar ingin menjadi hubungan baik antara cirebon dan negeri cina. Hal ini ternyata menguntungkan bangsa cina dalam dunia perdagangan.

Setelah menikah dengan sunan gunung jati, maka putri ong tien diganti namannya menjadi nyi ratu rara semanding. Tak salah, jika istana dan masjid cirebon dihiasai dan diperluas dengan berbagai motif hiasan dinding dari negeri cina. Pembangunan masjid itu  melibatkan banyak pihak, antara lain para wali sanga dan sejumlah tenaga ahli yang dikirim oleh raden patah, penguasa demak. Dalam pembangunan itu, sunan kalijaga mendapat penghormatan untuk mendirikan soko tatal sebagai lambat persatuan umat.

Setelah sunan gunung jati selesai membangun masjid, ia memerintahkan membangun jalan raya yang menghubungkan cirebon dengan berbagai daerah kadipaten lainnya untuk memperluas pengembangan islam di seluruh tanah pasundan. Prabu siliwangi hanya bisa menahan diri terhadap kembangan wilayah cirebon yang semakin luas itu. Bahkan, wilayah pajajaran sendiri sudah semakin terhimpit.

Pada tahun 1511m, malaka diduduki oleh bangsa portugis. Selanjutnya mereka ingin meluaskan kekuasaan ke pulau jawa. Pelabuhan sunda kelapa menjadi sasaran mereka untuk  menancapkan kuku penjajahan. Demak bintoro tahu bahaya besar yang mengancam kepulauan nusantara. Karena itu, raden patah mengirim adipati unus atau pangeran sebrang lor untuk menyerang portugis di malaka. Tapi usaha itu tidak membuahkan hasil karena persenjataan portugis terlalu lengkap. Dan mereka terlanjur mendirikan benteng yang kuat di malaka.

Ketika adipati unus kembali ke jawa, seorang pejuang dari pasai (malaka) bernama fatahillah ikut berlayar ke pulau jawa. Sebab, pasai sudah tidak aman bagi mubaligh seperti fatahillah. Karena itu, ia ingin menyebarkan agama islam di tanah jawa. Raden patah wafat pada tahun 1518 M, lalu kedudukannya digantikan oleh adipati unus atau pangeran sebrang lor. Ketika ia baru saja dinobatkan, ternyata muncul berbagai pembrontakan dari daerah pedalaman. Saat memadamkan pembrontakan itu, pangeran sabrang lor meninggal dunia dan gugur sebagai pejuang syuhada.

Pada tahun 1521 M, sultan demak dipegang oleh raden trenggana, putra raden patah yang ketiga. Di dalam pemerintahannya, fatahillah diangkat sebagai panglima perang yang akan ditugaskan mengusir portugis di sunda kelapa. Fatahillah yang pernah berpengalaman melawan portugis di malaka narus mengangkat senjata lagi sekarang. Dari demak, awalnya pasukan yang dipimpinnya menuju cirebon. Kemudian, pasukan gabungan demak dan cirebon itu menuju sunda kelapa yang sudah dijarah portugis dengan bantuan pajajaran.

Mengapa pajajaran membantu Portugis? Sebab, pajajaran merasa iri dengan dendam terhadap perkembangan wilayah cirebon yang semakin luas. Ketika portugis bersedia membantu merebut wilayah pajajaran yang dikuasai cirebon, maka raja pajaran menyetujuinya. Lalu mengapa pasukan gabungan demak dan cirebon tidak dipimpin oleh sunan gunung jati? Sebab, sunan gunung jati tahu bahwa ia harus berperang melawan kakeknya sendiri. Maka, ia memerintahkan fatahillah untuk memimpin serbuan itu.

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Dari pengalaman bertempur di malaka, fatahillah tahu titik lemah tentara dan siasat portugis. Dan setiap serangan pasukan demak-cirebon selalu membawa hasil gemilang. Akhirnya portugis dan pajajaran kalah. Lalu portugis kembali ke malaka. Sementara itu, pasukan pajajaran tercerai berai tidak menentu. Selanjutnya, fatahillah ditugaskan mengamankan baten dari gangguan para pembrontak yaitu sisa sisa pasukan pajajaran. Usaha ini tidak menemui kesulitan karena fatahillah dibantu putra sunsn gunung jati yang bernama pangeran sebakingking.

Di kemudian hari, pangeran sebakingking menjadi penguasan Banten dengan gelar pangeran Hasanuddin. Kemudian, fatahillah diangkat menjadi rasa oleh segenap adipati di sunda kelapa. Dan, ia mengubah nama sunda kelapa menjadj jayakarta.  Sebab sunan gunung jati selaku sultan cirebon telah memerintahkannya untuk meluaskan daerah cirebon agar islam lebih merata di jawa barat.

Fatahillah berturut-turut dapat menaklukkan daerah telaga, sebuah negara kecil yang dikuasai oleh raja Budha bernama prabu pacukuman. Kemudian, kerajaan galuh hendak meneruskan kebesaran pajajaran lama. Raja galuh ini bernama prabu cakraningrat dengan senopatinya yang terkenal, yaitu aria kiban. Tapi, galuh tidak dapat membendung kekuatan cirebon. Akhirnya, raja dan senopatinya tewas dalam peperangan itu.

Kemenangan demi kemenangan berhasil diraih fatahillah. Akhirnya, sunan gunung jati memanggil ulama dari pasai itu ke cirebon. Sunan gunung jati menjodohkan fatahillah dengan ratu wulung ayu. Sementara itu, kedudukan fatahillah selaku adipati jayakarta diserahkan kepada ki bagus angke. Ketika usia sunan gunungjati sudah semakin tua, maka ia mengangkat putranya, yaitu pangeran muhammad arifin, sebagai sultan cirebon dengan gelar pasara pasarean. Dan fatahillah yang sering disebut tugabgus atau kiai bagus pasai diangkat menjadi penasehat sang sultan.

Sunan gunung jati lebih memusatkan diri pada penyiaran dakwah islam di gunung jati atau pesantren pasambangan. Namun, lima tahun sejak pengangkatannya, pangeran muhammad arifin mendadak meninggal dunia mendahului ayahnya. Kemudian, kedudukan sultan diberikan kepada pangeran sebakingking yang bergelar sultan maulana hasanuddin dengan pemerintahan di banten. Sementara itu, sultan cirebon hanya bergelar adipati cabon I walaupun cirebon masih tetap digunakan sebagai kesultanan. Dan, adipati carbon I ini adalah menantu fatahillah yang diangkat sebagai sultan cirebon oleh sunan gunung jati.

Meninggalnya Sunan Gunung jati

Sunan gunung jati wafat pada tahun 1568 M dalam usia 120 tahun. Ia dimakamkan di cirebon bernama dengan ibu dan pangeran cakrabuana. Dia tahun kemudia, kiai bagus pasai atau fatahillah juga meninggal dunia. Ia juga dimakamkan di tempat yang sama. Makam kedua tokoh hebat tersebut berdampingan tanpa ada perantara apapun.

NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
 

Delivered by FeedBurner